Berita Terkini

Menampilkan 1-6 dari 6 hasil
logo
[2007-08-17/news] Pengibaran Bendera Merah-Putih di Gunung Parang, Purwakarta

Skygers bekerjasama dengan FPTI Pengcab Purwakarta dan FPTI Pengcab Jakarta Selatan berhasil mengibarkan bendera merah-putih berukuran 20x30 meter seberat 120kg di Tower I Gunung Parang (650 m diatas permukaan tanah) pada tanggal 17 Agustus 2007. Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan detik-detik Proklamasi yang diadakan oleh Pemda Kabupaten Purwakarta.

Kegiatan di Gunung Parang ini yang dikerjakan menggunakan teknik rope-access (work-at-height) selama 4 hari melibatkan tidak kurang dari 500 kg peralatan kerja di ketinggian dan lebih dari 40 orang professional dan 7 instruktur work-at-height.

Setelah berkibar Bendera juga dapat dilihat dengan jelas dari jarak 15 km. Bahkan Bupati Purwakarta setelah memimpin pelaksanaan upacara peringatan Proklamasi di kota Purwakarta yang berjarak 25 km dari Gn Parang dapat mengenali keberadaan bendera tersebut.

Skygers merencanakan untuk dapat membuat kegiatan serupa tahun berikutnya dengan skala yang lebih besar yang melibatkan para pemanjat dari seluruh Indonesia.


logo
[2007-09-29/article] Panjat Tebing: Petualangan, Olahraga, dan Dunia Kerja

Kegiatan pemanjatan tebing awalnya adalah kegiatan yang harus dihadapi para eksplorer untuk mencapai daerah baru atau puncak dunia, mereka berhadapan dengan tumpukan batu dingin. Seringkali tebing-tebing itu menghalangi tujuan pencapaian daerah baru atau puncak-puncak dunia. Untuk menghindari kegagalan itu para petualang harus mencari tempat-tempat yang dapat dijadikan simulasi latihan, digunakanlah tebing-tebing di sekitar tempat tempat tinggal sebagai sarana latihan.

Dengan jalur-jalur pemanjatan yang relatif pendek (dibandingkan dengan ketinggian puncak-puncak gunung yang ratusan atau ribuan meter), mereka berlatih teknik dan fisik agar nanti sukses mendaki puncak-puncak dunia. Dari kegiatan simulasi ini lahirlah para spesialis yang 'hanya' manjat tebing dan tidak pergi mendaki puncak-puncak dunia. Mereka sangat fanatik dengan rekahan batu dibandingkan dengan kegiatan pendakian gunung yang lebih banyak melangkahkan kaki setapak-demi-setapak.

Panjat tebing adalah kegiatan yang sangat mengintimidasi, tidak latihan 2-3 hari saja (apalagi sampai 7 hari) maka kemampuan pemanjat akan turun secara drastis. Di Eropa sana dikenal empat musim, ketika musim dingin jelas akan sulit melakukan kegiatan pemanjatan tebing, tapi para pemanjat tidak kehabisan akal untuk menjaga kemampuan yaitu dengan cara melakukan latihan pemanjatan di dalam ruang lalu lahirlah panjat tebing di dinding. Istilah yang digunakan tetap panjat tebing walaupun dilakukan di tebing artifisial dari kayu, semen atau fibreglass.

Panjat tebing dalam ruang ternyata membuka ruang baru yaitu terjadi kompetisi yang lebih terbuka antar pemanjat, karena jalur pemanjatan dapat diubah lebih bebas dibandingkan dengan jalur pemanjatan yang ada di tebing alam. Kompetisi panjat tebing kemudian marak pada akhir 1980-an, dan di tanah air kompetisi panjat tebing awalnya dilakukan para mahasiswa di Bandung.

Dan karena kegiatan panjat tebing awalnya bernaung di bawah Federasi Mountaineering Internasional (UIAA) yang dihuni para pencinta alam dunia, diputuskan bahwa kegiatan kompetisi panjat tebing hanya boleh dilakukan di tebing artifisial. Awal tahun ini masyarakat panjat tebing dunia membentuk federasi baru dengan nama International Federation of Sport Climbing (IFSC), suatu proses yang tidak bisa dicegah, karena akhirnya disadari bahwa kegiatan panjat tebing memang beda filosofi dengan kegiatan mountaineering yang tetap berinduk ke UIAA.

Di Indonesia kegiatan panjat tebing yang dikelola oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sejak tahun 1988 pun sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, karena panjat tebing telah menjadi cabang resmi di Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2000. Bahkan pada PON XVII Kaltim 2008 tahun depan, panjat tebing akan memperebutkan 21 medali emas. Sehingga sejak 3 tahun terakhir banyak atlit panjat tebing hidup benar-benar dari kegiatan berolahraga, karena selain dipertandingkan di PON, panjat tebing pun telah menjadi cabang resmi di Pekan Olahraga Daerah (PORDA) di sebagian besar propinsi.

Ketika para pemanjat sibuk bergelut dengan jalur pemanjatan, ada sebagian pemanjat dan penelusur gua yang melihat ada potensi lain dari kegiatan mereka yaitu aplikasi teknik tali-temali, peralatan pemanjatan dan penelusuran gua untuk membantu melakukan kegiatan kerja di ketinggian (work-at-height). Ternyata dengan teknik-teknik tersebut dapat memotong biaya melakukan kerja sangat signifikan dibandingkan dengan cara kerja tradisional menggunakan scaphoding atau gondola.

Di Indonesia pun tidak sedikit para pemanjat yang beralih profesi menjadi pekerja ketinggian misalnya menjadi tenaga maintenance menara telekomunikasi, pemasang banner di gedung-gedung tinggi, atau pekerja pembersih gedung-gedung tinggi. Sayangnya kegiatan ini belum mendapat pengakuan sebagaimana mestinya, masih seperti kegiatan olahraga panjat tebing awal 1990-an.

Telah berdiri asosiasi yang mengurus kerja di ketinggian (Asosiasi Ahli Keselamatan Kerja di Ketinggian dan Asosiasi Rope Access Indonesia) yang masih harus berhadapan dengan paradigma bahwa kerja di ketinggian dianggap sama dengan kerja biasa. Padahal berdasarkan data statistik di banyak negara, sangat jelas bahwa kerja di ketinggian mempunyai risiko yang jauh lebih tinggi dari kerja lainnya. Di Indonesia tiap hari 5 orang meninggal karena kecelakaan kerja di ketinggian yang merupakan nomor dua tertinggi di dunia setelah China. Akhirnya karena masih dianggap sama, risiko yang tinggi tersebut belum sebanding dengan upah yang diperoleh para pekerja.

Panjat tebing sebagai kegiatan olahraga perlu hampir 20 tahun untuk mencapai tingkat pengakuan yang membanggakan saat ini, yang membuat para pelakunya rela hidup bersandar pada panjat tebing. Jika menggunakan skala yang sama, maka dunia kerja di ketinggian baru akan mencapai tingkat kenyamanan bagi pelakunya 20 tahun lagi kah dari sekarang? Tapi rasanya untuk kegiatan komersial tidak perlu selama itu, mungkin kurang dari 5 tahun lagi para pekerja di ketinggian telah mempunyai posisi profesi yang cukup membanggakan. Apalagi jika kita sadar bahwa dengan keterbatasan ruang, maka konstruksi bangunan hanya punya pilihan untuk menjulang ke atas.

Terlihat bahwa kegiatan panjat tebing yang bermula dari kegiatan para petualang (eksplorer) akhirnya akan berujung pada kegiatan olahraga (dengan lahirnya kompetisi panjat tebing) dan kegiatan komersial dengan lahirnya bentuk kerja di ketinggian (work-at-height).


logo
[2007-11-17/article] Kecelakaan Pada Permainan di Ketinggian

Baru-baru ini diberitakan bahwa salah satu sarana permainan di Wonderland, Semarang (Jawa Tengah) mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera badan 15 orang, dan akhirnya pihak berwajib meminta pertanggungjawaban publik (pidana) kepada pengelola dan operator alat permainan tersebut.

Kegiatan di ketinggian pada dasarnya mengandung risiko sangat tinggi yaitu kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat tinggi dan jika kecelakaan terjadi konsekuensinya pun sangat tinggi. Healt Safety Executive (HSE) Inggris mencatat bahwa risiko jatuh adalah penyebab kecelakaan tertinggi, sehingga HSE mengatur kegiatan di ketinggian sangat intensif untuk melindungi para operator, pekerja dan publik.

Di kota-kota besar Indonesia mulai dari sekolah, hotel, taman bermain, dan pusat perbelanjaan saat ini banyak kita temui berbagai permainan yang memanfaatkan teknik dalam kegiatan ketinggian seperti flying fox, high-rope, dan rock climbing yang dirancang atau dikelola oleh para pelaku kegiatan petualangan, namun tidak jelas bagaimana kompetensi mereka dalam merancang, mengoperasikan, dan mengelola permainan tersebut.

Jika suatu kejadian yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia atau luka badan disebabkan oleh murni kecelakaan, maka orang-orang yang terlibat dengan kecelakaan tersebut tidak dapat dikenai pidana. Lalu kejadian apa yang disebut "kecelakaan".

Kamus Wikipedia mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian dari luar yang dapat diidentifikasi, tidak-diharapkan, tidak-biasa dan tidak-direncanakan yang muncul pada waktu dan tempat tertentu, tanpa penyebab yang jelas tapi akibatnya bisa-ditandai (accident is a specific, identifiable, unexpected, unusual and unintented external event which occurs in a particular time and place, without apparent cause but with marked effect).

Jika kita tidak mempunyai kompetensi dan legalistas yang cukup untuk merancang, mengoperasikan atau mengelola suatu kegiatan maka suatu kejadian yang menyebabkan hilangnya jiwa seseorang atau luka badan tidak dapat disebut sebagai kecelakaan. Sebagai ilustrasi seorang pengendara kendaraan bermotor yang tidak mempunyai surat ijin mengemudi menabrak pengguna jalan lainnya tidak bisa disebut kecelakaan, karena sebelum dia menjalankan kendaraan ia tidak mempunyai kompetensi yang cukup sehingga kejadian negatif pasti terjadi.

Memang hingga saat ini mungkin belum ada kejadian fatal atas maraknya pengoperasian permainan di ketinggian, namun jika terjadi kejadian fatal maka perancang, operator dan pengelola harus siap berhadapan untuk membuktikan kejadian benar-benar sebagai kecelakaan, jika tidak berhasil maka hukuman pidana penjara layak diterima. Terlebih saat ini belum adan standard keselamatan permainan ketinggian, sehingga penyidik akan banyak menggunakan standard keselamatan umum yang makin membuat peluang kita terjerat pidana makin besar.


foto
[2008-02-10/course] Kursus Kompetensi Kepelatihan Nasional

Saat ini BSAPI dan UPT Olahraga ITB sedang menyusun jadwal untuk melaksanakan Kursus Pelatih Level-1 yang rencananya akan dilaksanakan di Bandung akhir Maret 2008. Kursus dilaksanakan berdasarkan Standard Kepelatihan yang telah disusun sejak September 2007 lalu.

Diharapkan dengan adanya standard kompetensi ini prestasi panjat tebing Indonesia dapat terus dikembangkan dan dipertahankan. Selain itu dengan kompetensi yang standard maka administrasi karir pelatih panjat tebing dapat menjadi jelas.

Berdasarkan standard nantinya seorang pelatih akan dibagi menjadi 3 level: 1, 2, dan 3. Pada 2 tahun pertama aplikasi dari standard, kursus kompetensi hanya dapat dilakukan oleh BSAPI bekerja sama dengan institusi pendidikan yang mempunyai komptensi dalam bidang olahraga. Setelah 2 tahun diharapkan Indonesia telah mempunyai pelatih yang mempunyai kompetensi Level-3 sehingga para pelatih tersebut dapat menjadi instruktur untuk menggelar kursus pelatih level-1 atau level-2.


foto
[2008-12-22/course] Kursus Kepelatihan Gelombang I

Setelah melalui beberapa penundaan akhirnya kursus kepelatihan berdasarkan standard yang telah disusun berhasil dilaksanakan di Yogyakarta, 20 Nop 2008 lalu selama 5 hari. Kursus diikuti oleh 30 peserta dari seluruh Indonesia.

Pelaksanaan kursus dapat diselenggarakan oleh Pengurus Pusat FPTI cq Bidang Pembinaan Prestasi serta berkat dukungan dari berbagai pihak diantaranya para dosen fakultas olahraga yang ada di Bandung dan Yogyakarta, serta Universitas Veteran Yogyakarta (UPN) dan FPTI Pengda Yogyakarta.

Kursus gelombang kedua berikutnya rencananya akan digelar di kota Bandung sekitar Maret 2009. Selanjutnya diharapkan dapat segera dilakukan kursus tingkat 2 yang boleh diikuti hanya oleh para pelatih yang telah mengikuti tingkat 1.

Dengan adanya standarisasi kepelatihan, diharapkan akan dapat diciptakan prestasi panjat tebing yang lebih terukur sehingga proses peningkatan prestasi dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien.


foto
[2008-12-22/standard] Panduan Dasar Standard Pembuatan Panel Panjat Tebing

Berdasarkan permintaan para pembuat panel dinding panjat, BSAPI akhirnya berhasil menyusun panduan bagi para pembuat untuk mendapatkan akreditasi dari BSPI.

Panduan dibuat agar terdapat kesesuain antar produsen sehingga memudahkan semua pihak yang akan mengggunakan panel yang dihasilkan.

Pada tahap awal disusun standard untuk beberapa hal administrasi yang disyaratkan yaitu:

  1. Surat pengajuan
  2. Memberikan data pemohon
  3. Pernyataan kepatuhan pada standard
  4. Kesediaan memajukan panjat tebing Indonesia
  5. Dukungan produk liability insurance atau pernyatan bertanggungjawab apabila ada tuntutan atas produk
  6. Melunasi biaya administrasi

Persyaratan teknis yang harus dipenuhi untuk mendapatkan akreditasi adalah:

  1. Ukuran panel 100x100 cm
  2. Setiap panel mempunyai cuping untuk sambungan dengan lebar 5cm

  3. Nat antar panel setelah dipasang maksimal 2mm
  4. Kuat tarik minimal 230kgf/cm2, kuat lentur 1.150 kgf/cm2 berdasarkan hasil uji dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bahan dan Barang atas sampel sebanyak minimal 3 unit panel 100x100cm
  5. Diameter bolt untuk memasang poin adalah 10mm dengan drat halus
  6. Mempunyai petunjuk yang jelas dalam Bahasa Indonesia mengenai prosedur keselamatan dan pemasangan panel.